Super Junior - Mr Simple

Annyeong ☀

Selasa, 27 Desember 2011

(FANFICTION) “My Youngsaeng”




Maincast : - Lee Donghae
                 - Lee Joo Yeon
Rating : PG
Author : Farah a.k.a Choi Soo Jung
Backsound : Girls Generation - Complete

                                                     *Mulai*

Menyesal, menyesal, dan menyesal. 
Hanya kata itu yang selalu memenuhi pikiranku. Entah kenapa aku ini sangat bodoh. Kenapa dulu aku selalu merepotkan oppaku sehingga sesuatu yang sangat tidak kuinginkan datang menimpaku dan oppaku. Padahal kehidupan ekonomi kami cukup sulit tetapi aku justru merepotkan oppaku yang sudah bekerja keras demi menghidupkan kami.

                                                            ***

"Joo Yeon, makan malamnya sudah aku siapkan ayo cepat masuk Jooyeon!" Ucap seorang namja sembari menghampiri seorang adik perempuannya yang sedang berdiri dibalkon rumahnya.
"Ya, Oppa kau makan duluan saja" Balas Jooyeon. Donghae menghela nafas.
"Jangan begitulah Jooyeon, nanti kalau kau tidak makan kau akan sakit. Dan kau tau..udara diluar sangat dingin, ayo cepat masuk!" Kata Donghae sembari memeluk adiknya dari belakang.
"Sudahlah oppa, makan saja duluan! Nanti aku juga akan makan, tidak usah khawatir!" Ujar Jooyeon sedikit kasar.

06.00 Pagi

Sebuah jam leker milik Jooyeon berbunyi itu pertanda bahwa sekarang sudah pagi dan waktunya Jooyeon pergi sekolah.
"Jooyeon, bangun! sekarang sudah pagi!"

Suara lembut seorang namja sambil mengelus pipi Jooyeon bertujuan baik untuk membangunkan Jooyeon yang masih tidur nyenyak.
"momi jjibudunghada,aku masih mengantuk Donghae oppa" Kata Jooyeon malas.
"Tapi, kau harus segera pergi kesekolah. Supaya kau pintar nantinya, ayo cepat!" ...
"Baiklah"..

Donghae membantu adiknya tersebut mengambil sebuah tongkat yang selalu ia gunakan. Tongkat itu sangat berarti bagi Jooyeon, karena jika tak ada tongkat itu ia tidak bisa berjalan.

                                                                               ***
Selesai mandi Jooyeon segera pergi menuju ruang makan, karena seorang kakak laki laki yang sangat ia sayangi sudah menunggunya.
"Ayo cepat makan..jangan seperti tadi malam lagi..."
"Kenapa kau makannya lama sekali.. ayo cepat nanti kau terlambat datang ke sekolah Jooyeon!"
"Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali" ...

Selesai makan, Jooyeon pamit kepada kakak tercintanya untuk segera pergi ke sekolah.
Setiap hari Jooyeon pergi kesekolah dengan menggunakan angkutan umum, Bus Kota.
Akhirnya Jooyeon sampai disekolah. Sebenarnya Jooyeon sangat iri kepada teman temannya karena semua temannya memiliki tubuh ideal,wajah cantik dan kaki yang indah. Sedangkan dirinya hanyalah wanita biasa dan memiliki tubuh yang tidak luar biasa serta kaki yang dibantu oleh sebuah tongkat. Namun Jooyeon tetap bersyukur apa yang terjadi padanya saat ini.
Bel istirahat berbunyi , Jooyeon segera keluar kelas dan pergi menuju kantin. Jooyeon memiliki teman terdekat disekolah yaitu Minhyun. Minhyun adalah yeoja yang berasal dari keluarga yang berkecukupan. Tetapi Minhyun memiliki hati nurani yang baik, dan ia tidak malu berteman dengan seorang seperti Jooyeon yang berjalan hanya menggunakan sebuah alat bantu yaitu tongkat.

                                                                              ***

'Kringgggggggg' 'Kringggg'

Sekarang adalah waktunya pulang sekolah, Joyeon segera keluar kelas dan menuju kerumah. Ketika sampai di gerbang tiba tiba Jooyeon dipanggil oleh kepala sekolah dan Jooyeon ditagih untuk membayar uang sekolah, jika tidak nanti ia akan dikeluarkan dari sekolah. Jooyeon sedih setiap kepala sekolah menagih uang sekolah kepadanya. Dan sampai akhirnya ia sampai dirumahnya, da ternyata seorang kakak laki lakinya , Lee Donghae telah menunggunya di teras rumah.
"Ya, kau baru pulang my youngsaeng? Aku menunggumu dari tadi"...

Donghae memeluk Jooyeon karena ia takut terjadi apapun pada Jooyeon karena akhir akhir ini ia tidak mau makan.
"Oppa, ada yang ingin kubicarakan padamu" ...
"Bicara apa?" ...
"Hhhh...tidak jadi deh, nanti saja aku kasih tau oppa!" ..
"Aku lapar, aku mau makan!" Sambung Jooyeon..
"Baiklah, ayo kita masuk nanti kubuatkan nasi goreng kesukaanmu!" Ucap Donghae dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih oppa, baiklah aku masuk dulu. Aku mau ganti baju dulu sebentar!" ...

Setelah selesai ganti baju jooyeon akhirnya keluar kamar dan ia sudah ditunggu oleh oppanya untuk segera makan siang. Tetapi Jooyeon justru tidak langsung mengahampiri oppanya yang ada di meja makan tepat di hadapannya.
Donghae menghampiri Jooyeon yang sedang berdiri dan berdiam hampa di balkon. Donghae berkali kali memanggil nama Jooyeon tapi Jooyeon tak menjawabnya.Dan sampai akhirnya Donghae memeluk adiknya dari belakang dan mencium  tengkuk belakang Jooyeon hingga terdapat sebuak kissmark. Namun Jooyeon serentak menghentikan aktivitas Donghae, karena sikap Donghae sudah kelewatan dengan adiknya sendiri.
"Oppa...aahh stop! aku ini adikmu bukan yeojachingumu! Ahrasseo?" Tegas Jooyeon dengan bibir imutnya yang menggembung.
"Mianhae Jooyeon, habisnya dari tadi aku panggil panggil kau malah diam!" ...
"Tapi tidak begini juga caranya oppa! ini sudah keterlaluan!" Serentak Jooyeon langsung pergi meninggalkan Donghae sendiri di balkon, dan Jooyeon pun menuju ruang makan.

Setiap hari mereka menjalani kehidupannya hanya dengan berdua, mungkin kalian bertanya tanya kemanakah orangtua mereka? Beberapa tahun lalu keluarga mereka mengalami kecelakaan setelah pulang dari pulau jeju. Dan kecelakaan tersebut yang membuat eomma mereka, dan kecelakaan tersebut juga menimpa kaki Jooyeon sehingga ia lumpuh seperti sekarang. Sedangkan appa mereka setelah beberapa bulan kepergian eomma nya tiba tiba appanya menikah dengan wanita lain dan pergi meninggalkan Jooyeon dan Donghae dan itulah yang mengakibatkan mereka menjadi anak yang tidak terurus dan menghabiskan waktu hanya berdua.
"Mianhae Jooyeon..Jeongmal Mianhae!~" Ucap Donghae sambil menatap wajah adik perempuan yang ia sayangi.
"Sudahlah jangan dibahas lagi...lupakan saja soal kejadian tadi!" Seru Jooyeon..
"Benarkah Jooyeon? Gomawo my youngsaeng!" Donghae senang ketika Jooyeon sudah memaafkannya.
"Ohiya, tadi apa yang ingin kau katakan padaku Jooyeon?" ..
"Ah..." Kata Jooyeon terputus..
"Kenapa?" Tanya Donghae..
"Sudah 1 bulan yang lalu Guru Yeong menagih uang bayaran sekolah, tapi aku berkata padanya kalau keluarga kita belum punya uang saat ini. Dan setiap ia bertemu aku, dia selalu menagih itu!" Ucap Jooyeon tertunduk lemas karena ia takut oppanya bersedih.
"Mwo? kenapa kau baru bilang Jooyeon?  Seandainya kau berkata dari dulu mungkin aku akan mencarikanmu uang supaya kau bisa membayar biaya sekolah, tetapi kenapa kau baru bilang? huh? aku kecewa padamu Jooyeon!" Donghae mendengus kesal karena adiknya tak mau bilang kalau dari sebulan yang lalu ia ditagih uang sekolah oleh kepala sekolahnya.
"Mian oppa, lebih baik aku berhenti sekolah dan tidak sekolah lagi. Itu akan membuat hidup kita lebih baik oppa!" Jelas Jooyeon.
"Apa kau bilang/ semudah itu kau mengatakan hal seperti itu, Ya Lee Jooyeon dengar aku baik baik diluar sana banyak orang yang ingin sekolah sepertimu tetapi karena mereka tidak mampu maka itu mereka tidak bisa sekolah. Dan seharusnya kau bersyukur LEE JOOYEON!" Bentak Donghae.
"Ya, maafkan aku oppa..aku sungguh minta maaf aku sangat menyesali perkataanku!" ..
"Ne, tapi ingat jangan diulangi lagi kata seperti itu. Dan besok aku akan mencari pekerjaan supaya kau bisa membayar uang sekolahmu Jooyeon! Cukup aku saja yang bekerja!" ..
"Kau serius Donghae oppa?" ..
"Ne, Jooyeon!"..
"Gomawo Donghae Oppa.!" ..
"Cheonmaneyo, My Youngsaeng!" ..

Dan akhirnya mereka melanjutkan makan siang mereka yang tadi cukup lama tertunda.

                                                            ***

Jam lekerku berbunyi. Itu tanda waktu sudah pagi, aku segera mandi dan bersiap siap lekas pergi kesekolah. Dan ada yang cukup berbeda dengan pagi ini, biasanya seorang kakak laki lakiku yaitu lee donghae selalu duduk manis menungguku diruang makan.Tapi kali ini tidak, diruang makan sekarang cuma ada dua buah roti dan susu putih segar. Pasti iya menyediakannya khusus untukku. Gomawo oppa.

Sepanjang perjalanan aku hanya diam dan berfikir mungkin lebih baik aku memang harus keluar dari sekolah. Supaya tidak menambah beban kakakku Lee Donghae! Dia selalu bekerja keras demi aku. Dan aku sadar bahwa aku sudah banyak merepotkan dirinya. Setelah berpikir panjang, aku memutuskan untuk tidak pergi kesekolah pagi ini. Aku ingin mencari pekerjaan yang tidak terlalu sulit untukku dan penghasilan yang cukup lumayan.
Setelah lelah berjalan, akhirnya aku menemukan pekerjaan yang tepat, yaitu sebagai pegawai di kedai kopi. Walaupun tempatnya kecil, tetapi aku merasa nyaman. Awalnya manager kedai kpi ini meragukan aku untuk bekerja disini. Karena aku yeoja yang lumpuh. Tapi karena ia kasihan padaku kemudian ia menerimaku sebagai pegawainya di kedai ini.

                                                                 ***

Tak kusangka sudah lebih dari dua minggu aku bekerja di kedai ini, dan semakin lama uang tabunganku semakin banyak. Aku tidak menyangka bahwa semua uang ini dari penghasilanku sendiri. Pokoknya malam ini aku harus membuat Donghae oppa tersenyum, aku ingin dia menerima uangku ini sebagai tanda terima kasih karena ia sudah mau mengurusku dengan baik. Donghae oppa, dia benar benar kakak yang baik.

Ketika aku sampai dirumah, aku melihat Donghae oppa yang sedang duduk diruang tamu. Sebaiknya aku segera memberi uang ini kepadanya supaya ia senang.
"Kau darimana saja? ini sudah larut malam! Kenapa kau baru pulang huh?" tanya Donghae sedikit tegas.
"Ak aku..." Kata kata Jooyeon terputus ketika nada pembicaraan Donghae sedikit keras.
"Cepat katakan!!! Darimana saja kau? Tak kusangka jadi selama dua minggu ini ternyata kau tidak pergi kesekolah!!! Benarkah itu? cepat katakan!!!" Bentak Donghae sembari menjambak rambut adiknya tersebut.
"Ah..ne opa...iya aku jujur aku tidak pergi kesekolah selama dua minggu ini..tapi lepaskan oppa, ini sakit sekali!!!!!"

Donghae mengabaikan pengakuan Jooyeon, dan Donghae membawanya ke kamar madi kemudian mengguyurnya sehingga ia sadar dan meminta maaf karena sudah membuatnya sangat sangat kecewa.
"Kau tau? tadi pagi aku dipanggil oleh gurumu aku diejek, aku dimaki dan aku dibilang bukanlah kakak yang baik, padahal aku berkata padamu supaya selalu rajin sekolah, tetapi? kenapa kau tidak sekolah! Jujurlah padaku sebenarnya selama ini kau kemana LEE JOOYEON!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" Ucap Donghae sambil mengguyur adiknya tersebut menggunakan shower.
"Akuu..aku bekerja disebuah kedai kopi dekat namsan tower oppa!" Jelas Jooyeon sambil menangis.
'Mwo? bekerja? jadi selama ini kau bekerja!" Sontak Donghae langsung mematikan air kran shower dan menyeret Jooyeon keluar rumah.
"Sudah kubilang berkali kali biar aku saja yang bekerja, pergi kau dari sini. Aku muak denganmu Jooyeon! dan jangan anggap aku oppamu lagi karena kau telah mengecewakanku!!!"

'Braakkk' suara pintu tertutup dengan sangat keras.

Dengan keadaan mata sembab pakaian yang basah, Jooyeon pergi dari rumahnya dan membiarkan keadaannya seperti ini. Karena Donghae oppa telah menyiksanya dan telah membuatnya sakit.
Dia sungguh tak menyangka, bahwa seorang kakak laki lakinya yang selama ini ia banggakan, kini menyiksanya sehingga hampir membuatnya mati.
"Donghae Oppa jahat!! Aku benci padamu!!! Aku benci!!!!!" Teriak Jooyeon. Namun sia sia mungkin Donghae tidak akan mendengarnya.

*3 bulan kemudian*

Sudah tiga bulan aku tinggal dirumah sendirian biasanya ada Jooyeon yang selalu menemaniku dimanaku selalu berada.
"Jooyeon, dimana kau? aku merindukanmu! sangat merindukanmu!" Donghae menangis sambil memegang foto Jooyeon.
"Seandainya dulu aku tidak menyiksamu seperti ini! mungkin aku tidak akan menyesal dan kesepian Jooyeon!"..

Entah tak tau apa yang dipikirkan Donghae, tiba tiba ia berlari kemudian mengambil kunci mobil dan menancap gas mobil tersebut dengan kecepatan tinggi.
"Jooyeon dimana kau?' Ucapnya sambil menangis..

Sudah tiga jam ia mencari Jooyeon tetapi tidak ketemu padahal cuaca semakin hari semakin mendung. Dan akhirnya Donghae memutuskan untuk mencari Jooyeon esok hari karena tiba tiba hujan turun deras disertai angin kencang dan kilat yang menyambar.

Keesokan harinya..suasana langit cerah, udara juga tidak panas dan mendung.
Mungkin ini waktu yang tepat buat Donghae untuk mencari Youngsaengnya Jooyeon.
Donghae sudah mencari Jooyeon kemana mana tapi hasilnya sama. Ia belum ditemukan. Sampai akhirnya Donghae berhenti dan beristirahat disebuah klub kecil. Ia memesan 2 botol Soju.
Ketika ia sedang meminum soju tersebut , tiba tiba ia melihat seorang yeoja yang sedang melayani seorang namja. Dan wajahnya mirip sekali dengan adiknya Lee Jooyeon.
"Yeoja itu mirip sekali dengan Jooyeon!" Ujarnya.

Setelah terus menerus memperhatikan Yeoja tersebut ternyata benar bahwa dia adalah Jooyeon! Donghae melihat sebuah tanda lahir di paha kirinya sama halnya dengan Jooyeon. Dan tidak salah lagi yeoja itu adalah Jooyeon. Kemudian Donghae menghampirinya dan menariknya paksa.
"Ya, siapa kau? mengapa kau tarik tarik tanganku lepaskan ..lepaskanlah namja bodoh!!!!" Teriak Jooyeon .

Donghae membawanya kedalam mobil, dan ternyata benar yeoja yang ia tarik adalah Jooyeon.
"Jooyeon?" Ucap Donghae ...

Jooyeon bengong menatap wajah sang kakaknya yang dulu tega menyiksanya dan mengusirnya dari rumah.
"Donghae Oppa....." ...
"Jooyeon, aku merindukanmu!!!" Tangis Donghae sambil memeluk Jooyeon.
"Merindukanku? apa kau bilang? semudah itu kau mengatakan hal itu padaku! kau tau betapa sakitnya aku disiksa denganmu dan betapa sedihnya aku! Sebenarnya waktuitu aku bertujuan baik untuk membantumu mendapatkan uang, tapi kau malah menyiksaku dan mengusirku! Kau jahat sekali oppa kau tega! lepaskan aku! aku tidak mau bertemu denganmu lagi!!!!" ..
"Tidak Jooyeon, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau memaafkanku!" ..
"Ya, kenapa kau memaksaku! Hey dengar yaa sekarang hidupku sudah bahaga tanpamu oppa!"

Karena Jooyeon terus berbicara akhirnya Donghae menyetir mobil tersebut dan membawanya pergi, memang kasus seperti ini adalah kasus penculikan tetapi Jooyeon adalah seseorang yang paling ia sayangi dan ia cintai.
"Kau adalah keluargaku satu satunya, dan kau adalah orang yang sangat aku cintai jadi aku tidak akan menyia nyiakanmu Jooyeon!" ..
"Mwo? aku tidak peduli sekarang buka pintunya dan lepaskan aku!" ..
"Tidak Jooyeon, oppa janji oppa takkan membuatmu kecewa lagi" ..

Akhirnya dengan sangat terpaksa Jooyeon kembali pulang kerumahnya.
Ketika ia masuk kedalam rumahnya, ia menangis melihat keadaan rumahnya tersebut. Ternyata rumah dan ruangan ini tidak berubah. Dan ia sangat merindukan rumah ini.
"Mandilah, kau ingat handuk ini? ini adalah handuk kesayanganmu!" Donghaemelemparkan handuk kesayangan Jooyeon dan air mata Jooyeon kembali mengalir ketika melihat handuk tersebut.

Entah tau kenapa tiba tiba sebuah vas bunga dan guci yang berada di meja ruang tamu dibanting Jooyeon sehingga beling yang pecah mengenai kakinya, dan akibatnya kakinya berlumuran darah.

"Prankkkkkkk'

Mendegar suara seperti itu Donghae kemudian datang menghampiri Jooyeon dan memeluk Jooyeon. Ia merasa sangat bersalah kepada adiknya tersebut.
"Jooyeon, Mianhae..Jeongmal Mianhae!" ..

Jooyeon tidak membalas kata kata oppanya justru tangisannya semakin tersedu sedu kencang.
"Baiklah, lebih baik aku pergi saja dari rumah ini supaya aku merasakan apa yang kau rasakan my youngsaeng!" Pinta Donghae..
"Jangan oppa!!!! jangan pergi...."  Teriak Jooyeon kemudian memeluk oppanya dari belakang.
"Kenapa? aku sudah sangat merasa bersalah padamu Jooyeon!" sahut Donghae..
"Tidak oppa, justru seharusnya aku yang minta maaf. Aku baru sadar ternyata aku bukan adik yang baik untukmu!" ..
''Mwo? jangan berbicara seperti itu Jooyeon!" Donghae membalikkan badannya kemudian mengelus rambut Jooyeon halus.
"Kenapa oppa? memang awalnya dari tingkah laku diriku yang membuat oppa kecewa sangat kecewa! Maafkan aku oppa!" sesal Jooyeon.
'Baiklah, adikku aku akan memaafkanmu! Tapi aku juga minta maaf atas kelakuanku yang berlebihan padamu Jooyeon!" ..
"Baiklah oppa aku maafkan!" ..


Sekarang keluarga mereka kembali damai, rukun dan tentram.

"Jooyeon, ayo bangun! ternyata selama kau pergi dari rumah ini kau tidak berubah yaa! Hahaha" ..
"wae oppa? aku masih mengantuk sangat ngantuk!" ..
"Ya, kau tau? dimeja makan ada nasi goreng balado! kau tidak mau? yasudah buat aku saja!" ..
"Mwo? nasi goreng balado? *Kyaaaaa aku mauuu!!!!" Spontan Jooyeon langsung lari menuju ruang makan.

"Hmm.. ini lezat sekali.." ..
'Enak? yasudah makan saja..Tapi eittsss jangan lupa cuci tangan!" ..
"Ah, oppa aku malas!" ..
"Ya , kau baru bangun tidur tanganmu kotor!" ..
"Tapi aihhh,, baiklah oppa!!!!!" ..

Selesai mencuci tangan Jooyeon memakan nasi goreng buatan oppanya tersebut dengan lahap.
"Ya, Donghae oppa aku kangen nasi gorengmu!" Kata Jooyeon..
"Aih bisa saja sudah makan cepetan! aku mau mengajakmu ke suatu tempat!" Jelas donghae..
"Mau kemana oppa?" ...
'Nanti kau juga akan tahu!" ..
"Hmm baiklah..."

Selesai makan Jooyeon segera mandi . Karena ia tau pasti ia sangat ditunggu oleh Donghae oppa.
"Ayo oppa kita berangkat!" Ucap Jooyeon dengan berpakaian rapi yang menggunakan sebuah kaus ungun dan celana jeans sedengkul.
"Oppa kenapa memperhatikanku terus .. ayo oppa kita berangkat!" ..
"Kakimu tidak berubah Jooyeon! Kau masih menggunakan tongkat kesayanganmu itu! Hmmm sekarang ayo kita berangkat adik kecil.."
Tanpa sepengetahuan Jooyeon, Donghae oppa menggendongnya dan memanggilnya adik kecil.
"Ya, aku bukan adik kecil namja bodoh!" ..
"Mwo? kau bilang aku namja bodoh? Aku bukan namja bodoh Jooyeon!" ...
"Aku juga bukan adik kecil oppa!!!!" ..


Akhirnya mereka sampai disebuah pantai dengan ombak yang indah.

"OMO!!! Ini indah sekali oppa..." Puji Jooyeon..
"Ne, aku yakin jika kau datang kesini kau pasti senang!" ..
"Oppa gomawo!" Tiba tiba Jooyeon Donghae dan menangis dibahu Donghae..
"Mwo? kau kenapa Jooyeon?" Tanya Donghae heran.
"Terima kasih banyak oppa, dari dulu sampai sekarang kau setia merawatku! Aku tidak tau harus berkata apa selain kata terima kasih untukmu oppa!" ..
"Samasama Jooyeon, tapi sudahlah Jooyeon jangan menangis lagi tujuan kita kesini bukan untuk menangis tapi untuk liburan!" ..
"Ne Oppa.."


Semakin hari langit semakin gelap. Donghae mengajak Jooyeon pulang. Sepangjang perjalanan mereka terlihat sangat senang dan bernyanyi bersama tetapi tiba tiba musibah menimpanya ....

'Braaakkkkkkkkkkkk'

Tabrakan maut yang sangat dahsyat menimpa mereka.
Tiba tiba Donghae pun sadar dan spontan ia mencari adiknya, Jooyeon. Ia sangat mengkhawatirkannya.
seluruh tubuh Donghae penuh dengan darah akibat kecelakaan tersebut. Tetapi ia tidak menkhawatirkan keadaannya dan ia sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya sekarang. Dimana Jooyeon? Hanya kata kata itu yang ada di benak Donghae.
"Donghae berjalan keluar kamar, ia mencari cari keberadaan adiknya itu. Ia sangat mengkhawatirkannya!" ..
"Suster, apakah kau melihat adikku dia pasien bernama Lee Jooyeon. Kau kenal itu?" Tanya Donghae cemas.
"Ya, mian tuan. Aku tidak melihatnya dan aku juga tidak tau!" Jawab suster itu singkat..
"Mwo? baiklah terimakasih!" ..

*Jooyeon*

Dia membuka matanya perlahan lahan. Kenapa rasanya gelap semua?. Sebelumnya tidak seperti ini.
Sebenarnya apa yang terjadi padaJooyeon? apakah dia buta?.
Jooyeon terus mencoba meraba kelopak matanya dan alhasil hasilnya sama. Matanya tetap gelap dan tak bisa melihat apa apa.
"Aku butaaaaaaa.... Donghae oppa dimana kau?" Tangis Jooyeon sambil memanggil nama kakaknya yaitu Lee Donghae.

Dan tiba tiba ada seorang namja yang memanggil namanya. Dan ia sangat mengenali suara itu.
"Donghae Oppa!!!!!!!!!! Aku Jooyeon! Aku ada disini!'' teriaknya...

Tiba tiba seorang namja memeluk dengan penuh kasih sayang. Dan ternyata namja itu adalah Donghae.
"Jooyeon, aku tindu padamu! Aku Donghae oppa" ..
"Donghae oppa, kau baik baik sajakah?" ..
"DONGHAE OPPA, Aku tidak bisa melihat ,mataku buta! aku ingin melihat seperti dahulu oppa!!!!!!" ..
"Mwo? apakau bilang? kau buta!" ..
"Ne, oppa. Aku ingin seperti dahulu aku ingin melihat indah bulan dan bintang, serta wajahmu yang bagaikan malaikat oppa!" ...
''Sabarlah Jooyeon, aku yakin suatu saat nanti kau pasti bisa melihat lagi percaya padaku!" ..
"Ne Oppa" ..

                                                                    ***
 *Jooyeon pov*

Akupun sadar, aku terbangun dari tidurku. Dan ada yang beda dariku! sekarang aku bisa melihat kembali, aku bisa melihat sebuah ruangan hampa yang tanpa hiburan. Serta AC yang membuat ruangan ini terasa dingin. Aku mencari cari dimanakah orang yang sangat aku sayangi, yaitu kakak laki lakiku Lee Donghae. Aku terus mencarinya, sehingga aku terjatuh karena aku kaget setelah melihat kaki kiriku yang buntung..
"Hah..kemana kaki kiriku..." tangisku..

Tiba tiba suster datang sambil menggandengku. Ia memberikan sebuah tongkat. Tidak ada perubahan seperti dahulu, aku tetap saja berjalan menggunakan tongkat! hufft..
"Kau mencari siapa nona?" ..
"Aku mencari kakakku yaitu Lee Donghae? bukankah disini ada pasien yang bernama Lee Donghae?" ..

Tiba tiba suster itu menggandengku aku tak tau ia akan membawaku kemana, aku takut. apakah aku ingin diculik? ah sebaiknya jangan berprasangka buruk dulu!...
"Kenapa kau membawaku ke kuburan suster?" ..

R.I.P LEE DONGHAE

Aku kaget melihat tulisan itu. Sebenarnya apa yang terjadi pada Donghae oppa? Kenapa tiba tiba di kuburan ini ada tulisan R.I.P LEE DONGHAE?
"Ya, Nona Lee Jooyeon sebenarnya kemarin saat kau sedang menjalani operasi dia sudah tiada. Dia sudah dibawa almbulance menuju pemakaman. Mungkin awalnya kau kaget.  Oh iya waktu itu sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya ia berkata jadilah wanita yang selalu bersahaja di manapun kau berada" ..
"Mwo? jadi Donghae oppa sufah..sudah tiada..."

Aku menangis, terus menangis mendengar apa yang dikatakan suster itu. Ternyata seseorang yang selama ini aku sayangi dan seseorang yang satu satunya keluargaku ia sudah pergi jauh dan takkan kembali lagi.
"Dan..waktu itu ia juga pernah berkata seperti ini jagalah mata itu baik baik. Itu adalah benda yang sangat berharga untukmu!" ..
"Mwo? Jadi yang mendonorkan mata ini adalah..Donghae oppa?" tanyaku kaget.
"Ne" ..

Kemudian air mataku kembali berlinang, aku bersandar dibahu suster itu. Karena aku sangat sedih mendengar kata kata terakhir Donghae oppa. Yang membuatku tambah sedih, aku tidak bisa menyaksikan pemakamannya ditempat peristirahatannya yang terakhir.
"Ini untukmu..." suster itu mengulurkan tangannya dan memberikanku sebuah kotak kecil.
"Ini apa?" tanyaku..
"Di dalam kotak ini ada surat dan sebuah kalung yang diberikan oleh Donghae sebelum ia pergi..." ..
"Mwo?"

Aku segera membuka tutp kotak tersebut dan mengambil sebuah kalung yang amat cantik yang terdapat huruf 'DJ' yang berarti Donghae Jooyeon.
Dan kemudian aku membaca surat terakhir darinya..

To: Lee Jooyeon

Jooyeon ssi, Saat kau membaca surat ini, mungkin kau sudah tak dapat melihatku lagi. Tapi, aku akan tetap bersamamu, dan akan selalu bersamamu.  Jooyeon ssi, aku sudah menepati perkataanku. Jadi, penuhilah permintaanku yang terakhir. 
Aku menghirup oksigen dari hijaunya pohon-pohon disekitarku dengan sinar matahari yang menyilaukan mataku. Kuhembuskan nafas melalui rongga hidungku, mengeluarkanya perlahan bersama beban-beban yang selama ini mengganjal dalam dadaku.
Lihatlah dunia untukku. Lihatlah kerlipan bintang untukku.  Lihatlah hijaunya dedaunan untukku. Lihatlah putihnya salju untukku. Lihatlah birunya langit untukku. Juga untukmu. 
Dan jangan lupa untuk selalu tersenyum!!! Keep smile J
I’ll be your eyes. angan lupakan aku Jooyeon, ingat aku selalu. Jooyeon ssi, Saranghamnida.

                                                                                                                           From: Lee Donghae

Tentu Oppa. Aku sudah menepati semua permintaanmu.

Rest In Peace

Lee Donghae

25-10-2011

Aku selalu menangis setiap melihat kata itu.

Huruf-huruf itu terukir diatas sebuah batu pusara yang sudah tertutup banyak debu. Dihadapan batu itu terdapat gundukan tanah yang sudah kasar, menandakan bahwa gundukan itu sudah lama disana. Dan dibawah gundukan tanah tersebut, terbaring jasad satu-satunya oppaku, Lee JDonghae. Ya. My young brother has Rested in peace.

Donghae oppa, I promised I would protect only you. I only have you. So, why you leave me alone?

Dibawah terangnya sinar rembulan yang menembus celah-celah pepohonan, kubelai  lembut batu itu bersamaan dengan guguran daun lesu. Kurogoh saku celanaku, mengambil secarik kertas yang merupakan pesan terakhirnya padaku. Aku meletakkan kertas itu diatas gundukan tanah  yang berhiaskan hijaunya rerumputan. Membiarkannya hilang ditelan hembusan udara malam. Kudongakkan kepalaku agar air tak mengalir deras dari pelupuk mataku. Baru sekarang aku dapat menghapus air mataku sejak 2 tahun telah berlalu. Bersamaan dengan itu, sempat senyuman miris mengembang dipipiku. Kukenakan kacamata hitamku, serta tongkat yang membatu jalanku lalu melangkahkan kakiku gontai meninggalkan tempat itu.
Thank You oppa, You Are The One .

                                                                        -END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar